“Ada yang kajian pustaka, ada yang observasi, bahkan ada yang praktik langsung. Kami ingin mereka mendalami satu bagian kecil ilmu secara lebih serius,” ujar mantan Kepala Sekolah SMA Seminari Menengah St.Rafael Kupang ini.
Menurutnya, proses penyusunan karya tulis ilmiah dilakukan selama dua hingga tiga bulan, dengan pendampingan langsung dari guru kelas XII. Setiap guru membimbing tiga hingga empat siswa.
Hasilnya kemudian diuji dalam forum presentasi, yang menurut pihak sekolah menjadi simulasi awal kehidupan akademik di perguruan tinggi.
“Di kampus nanti mereka akan bertemu skripsi, seminar, bahkan profesor. Di sini mereka mulai dari dasar, dengan kemampuan sederhana, tapi terarah,” jelasnya.
Romo Sintus mengatakan penilaian KTI dilakukan secara komprehensif dengan bobot: sistematika penulisan (15%),
kualitas gagasan (25%), data dan sumber (15%), analisis dan kesimpulan (25%), serta presentasi (20%).
Nilai KTI berkontribusi 40% terhadap kelulusan, sementara 60% berasal dari nilai akademik selama tiga tahun. Namun demikian, KTI bukan satu-satunya penentu kelulusan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












