“Ujian sekolah tidak harus selalu berbentuk tes tertulis. Bisa portofolio, penugasan, atau bentuk lain. Dari situlah kami bersama dewan guru memutuskan memilih karya tulis ilmiah,” jelasnya.
Menurutnya, keputusan ini juga dilatarbelakangi oleh fenomena psikologis siswa yang kerap menganggap ujian akhir hanya formalitas karena merasa sudah pasti lulus. Kondisi itu, kata dia, perlu diubah.
“Kami ingin memberikan warna lain. Anak-anak tidak hanya datang, mengisi soal, lalu selesai. Tapi mereka benar-benar berpikir, menggali, dan mempertanggungjawabkan ide mereka,” tambahnya.
Mantan Kepala Sekolah SMAK Giovanni Kupang ini mengungkapkan Karya Tulis Ilmiah (KTI ) menjadi sarana untuk membangun budaya literasi.
Setiap siswa diwajibkan membaca minimal dua buku yang relevan dengan topik yang dipilih, serta mencari data tambahan melalui narasumber atau observasi.
Tema yang diangkat pun beragam dan kontekstual, mulai dari: pengaruh media sosial terhadap karakter siswa, hubungan penggunaan smartphone dengan keterlambatan, pengelolaan limbah, hingga isu kesehatan dan energi alternatif.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












