IKLAN

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

SMA Katolik Sint Carolus Penfui Kupang latih nalar dan mental, serta siapkan masa depan siswa lewat Ujian Karya Tulis Ilmiah 

Avatar photo
IMG20260415110517
oplus_1056

“Ujian sekolah tidak harus selalu berbentuk tes tertulis. Bisa portofolio, penugasan, atau bentuk lain. Dari situlah kami bersama dewan guru memutuskan memilih karya tulis ilmiah,” jelasnya.

Menurutnya, keputusan ini juga dilatarbelakangi oleh fenomena psikologis siswa yang kerap menganggap ujian akhir hanya formalitas karena merasa sudah pasti lulus. Kondisi itu, kata dia, perlu diubah.

Advertisement
Ingin Punya Website?  Klik Disini!!!

“Kami ingin memberikan warna lain. Anak-anak tidak hanya datang, mengisi soal, lalu selesai. Tapi mereka benar-benar berpikir, menggali, dan mempertanggungjawabkan ide mereka,” tambahnya.

Mantan Kepala Sekolah SMAK Giovanni Kupang ini mengungkapkan Karya Tulis Ilmiah (KTI ) menjadi sarana untuk membangun budaya literasi.

Setiap siswa diwajibkan membaca minimal dua buku yang relevan dengan topik yang dipilih, serta mencari data tambahan melalui narasumber atau observasi.

Tema yang diangkat pun beragam dan kontekstual, mulai dari: pengaruh media sosial terhadap karakter siswa, hubungan penggunaan smartphone dengan keterlambatan, pengelolaan limbah, hingga isu kesehatan dan energi alternatif.

Baca Juga :  Kakanwil Kemenag NTT Sosialisasi 8 Pesan Menteri Agama Tahun 2025, Termasuk Kawal Program MBG