IKLAN

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

170-an titik Longsor, BPJN NTT lakukan penanganan bertahap sesuai ketersediaan Anggaran

Avatar photo
IMG20250618113721
oplus_2

Selain masalah geologi, BPJN NTT juga menghadapi tantangan lain selama masa konstruksi di perbatasan sektor timur, yaitu kondisi topografi yang berupa daerah perbukitan yang curam, serta curah hujan yang tinggi sepanjang tahun.

“Salah satu tantangan yang kami hadapi dalam pembangunan jalan di NTT, khususnya di sektor timur, adalah kondisi geologi yang rentan terhadap longsor, yaitu tanah Bobonaro clay (rawan longsor). BPJN akan terus berupaya memperbaiki longsoran hingga mencapai kondisi stabil, dengan prioritas utama memastikan kelancaran lalu lintas,” ungkap Junianto dalam acara coffee morning  bersama wartawan di Aula Flobamorata, BPJN NTT, Rabu, 18 Juni 2025.

Advertisement
Ingin Punya Website?  Klik Disini!!!

Turut hadir pada kesempatan tersebut, Kepala seksi (Kasie) Preservasi, Rofinus Ngilo, Kasie Pembangunan Jalan dan Jembatan, Ketsia A.S Lanoe, Kasatker P2JN, Andria Fitra, Kasatker PJN Wilayah 1, Ashary, Kasatker PJN Wilayah 2, Fahrudin, dan Kasatker SKPD, Rama Usman,

Terkait penanganan longsoran, Mahmah Dian Mahendra, selaku Kepala Seksi Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur Jalan (KPIJ) BPJN NTT juga menyampaikan bahwa tidak semua dari 170-an titik longsor di NTT dapat ditangani secara bersamaan, mengingat adanya keterbatasan alokasi dana yang diberikan oleh Pemerintah Pusat.

Baca Juga :  Konektifitas Jalan Perbatasan Wilayah Sabuk Merah, Sektor Barat, Terintegrasi. Warga Nikmati Jalan Beraspal (Oenaek-Saenam-Nunpo)