Sementara itu, Kepala Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan (OP) BBWS Nusa Tenggara II, Nahason Hariandja, S.T., M.T., mengatakan program ini sangat membantu pemerintah dalam memperbaiki jaringan irigasi tersier di tengah keterbatasan anggaran rehabilitasi.
Melalui pembangunan saluran dengan pasangan batu maupun lining beton, kehilangan air akibat rembesan dapat dikurangi sehingga distribusi air menuju lahan pertanian menjadi lebih optimal.
“Yang paling penting bagi petani adalah air sampai ke sawah. Dengan saluran yang baik, air tidak lagi banyak hilang di perjalanan sehingga produktivitas pertanian dapat meningkat,” ujarnya.
Perlu Penguatan Kelembagaan P3A
Nahason juga menilai penguatan kelembagaan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) menjadi faktor penting dalam keberhasilan program.
Ia mengakui Komisi Irigasi di NTT saat ini belum berjalan optimal sehingga koordinasi antarinstansi perlu diperkuat.
Menurutnya, Dinas PUPR, Dinas Pertanian, pemerintah daerah, serta BBWS NT II harus membangun sinergi agar pengelolaan air dan penentuan musim tanam dapat dilakukan secara terkoordinasi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.











