Pidato lengkap, Gubernur NTT pada Perayaan HUT Ke-80 Kemerdekaan RI

IMG 20250816 WA0015

Tahun ini, kontribusi energi terbarukan di Semau tetap stabil di kisaran 10–12%, dan berhasil menurunkan konsumsi BBM sekitar 8–9%. Ini bukan sekadar angka, Bapak/Ibu, tetapi bukti nyata bahwa teknologi hijau mampu memberi manfaat ekonomi sekaligus melindungi lingkungan kita.

Namun kita juga jujur mengakui, biaya investasi EBT masih tinggi. Membangun PLTS off-grid memerlukan sekitar Rp130 juta per kWp, sementara membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi 1 MWe membutuhkan kurang lebih Rp 48 miliar. Selain itu, kita masih harus terus meningkatkan pemahaman dan penerimaan masyarakat terhadap proyek-proyek ini — baik panas bumi maupun PLTS terpusat.

Karena itulah kita bergerak dengan program-program strategis: PLTS DAK–Infrastruktur EBT di Sumba, ACCESS Project di Sumba Barat dan Sumba Barat Daya, serta Program MENTARI di Sumba Tengah yang telah melistriki ratusan rumah tangga dan fasilitas umum.

Kita juga patut berbangga, karena Nusa Tenggara Timur kini menjadi bagian dari peta besar inovasi energi dunia. Kita telah menandatangani kerja sama dengan perusahaan energi asal Prancis, PT HDF Energy Indonesia, untuk membangun ekosistem energi hidrogen hijau di bumi Flobamorata, dengan nilai investasi sebesar Rp9,6 triliun. Dana sebesar ini akan mewujudkan delapan pembangkit listrik berbasis teknologi Renewstable, yang tersebar di Sumba Timur, Sumba Barat Daya, Kupang, Timor Tengah Utara, Belu, Rote Ndao, Alor, dan Sikka. Teknologi ini akan menghadirkan pasokan listrik yang bersih, stabil, dan mandiri, sekaligus mengukuhkan posisi NTT sebagai pionir energi terbarukan di Indonesia.

Exit mobile version