Ia khawatir pembatasan kunjungan yang terlalu ketat akan berdampak langsung pada pendapatan masyarakat, terutama jika wisatawan yang telah merencanakan perjalanan jauh hari terpaksa batal masuk karena sistem kuota.
Apalagi pengaturan kunjungan dilakukan melalui aplikasi reservasi digital dengan sistem “siapa cepat dia dapat”, yang berpotensi menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha pariwisata.
“Dalam kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, kebijakan seperti ini sangat berisiko. Jangan sampai rakyat kecil yang paling terdampak,” ujarnya.
Usman juga menyoroti sektor wisata kapal liveaboard (LOB) yang selama ini menjadi salah satu daya tarik utama wisata di TN Komodo.
Menurutnya, wisatawan liveaboard menghabiskan sebagian besar waktunya di laut, bukan di jalur trekking darat di pulau-pulau dalam kawasan taman nasional.
Jika wisatawan tersebut tetap dihitung dalam kuota harian yang sama, maka akan terjadi distorsi dalam penghitungan kapasitas kunjungan.
“Harus ada klasterisasi. Pisahkan kuota wisata darat dan laut. Jangan semuanya dipukul rata,” kata Usman.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












