Menurut Rektor, guru besar bukan sekadar penyampai ilmu, melainkan arsitek pemikiran manusia—yang mampu mengubah data menjadi kebijaksanaan, dan informasi menjadi makna.
Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah disrupsi teknologi, kampus harus tetap menjadi ruang humanisasi—bukan sekadar produksi pengetahuan instan.
Tak sekadar seremoni, pengukuhan tiga Guru Besar ini diperkaya dengan orasi ilmiah yang kuat, membumi, dan relevan dengan persoalan nyata di NTT.
Prof. Linda W. Fanggidae dalam orasi ilmiahnya menyoroti kegagalan banyak desain modern yang mengabaikan perilaku sosial.
Ia membandingkan proyek perumahan Pruitt-Igoe di Amerika Serikat yang runtuh secara sosial, dengan “Kios Angalai” di NTT yang justru hidup sebagai ruang interaksi.
Pesannya tegas: arsitektur yang berhasil bukan yang megah, tetapi yang memahami manusia.
Di sisi lain Prof. Wiliam Djani dalam orasinya menguliti persoalan stunting dari sisi struktural. Ia menegaskan bahwa akar masalah bukan semata kekurangan dana, melainkan lemahnya sinergi antar lembaga.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












