Ia juga memastikan pelaksanaan proyek akan melibatkan potensi dan penyedia jasa lokal di Nusa Tenggara Timur.
“Tetap akan melibatkan kontraktor lokal. Potensi yang ada di daerah, baik tenaga kerja, peralatan maupun material lokal akan kami optimalkan selama pelaksanaan pekerjaan,” katanya.
Menurut Rifai, pekerjaan akan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama selama enam bulan difokuskan pada pekerjaan persiapan, mobilisasi, pembangunan jalan pengalihan (detour), serta pekerjaan awal konstruksi jembatan.
“Tahap pertama berlangsung enam bulan dengan nilai pekerjaan sekitar Rp25 miliar. Selanjutnya tahap kedua dilaksanakan selama 12 bulan hingga penyelesaian konstruksi secara keseluruhan,” jelasnya.
Sementara itu, PPK 1.1 Provinsi NTT, Paul Zakarias Hugo, ST., MT., mengatakan BPJN NTT akan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mengatur rekayasa lalu lintas selama pembangunan berlangsung mengingat lokasi proyek berada di jalur nasional yang padat kendaraan.
“Begitu pelaksanaan fisik dimulai, kami akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, kepolisian dan pihak terkait untuk rekayasa manajemen lalu lintas agar aktivitas masyarakat tetap berjalan lancar selama masa pembangunan,” katanya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












