Adapun jenis-jenis pengujian yang dilakukan meliputi berbagai aspek, seperti uji kuat tekan beton, uji berat jenis dan penyerapan agregat kasar, agregat halus, uji kehausan agregat dengan mesin abrasi, uji berat jenis aspal, daktalitas aspal, penetrasi aspal, titik nyala dan titik bakar aspal, pengujian titik lembek aspal, dan analisa saringan.
Setiap jenis pengujian dilakukan secara bertahap sesuai dengan waktu pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
“Misalnya, pengujian agregat memerlukan waktu minimal 28 hari sejak material dikirim ke laboratorium oleh Penyedia Jasa,” jelas Sona.
Proses pengujian diawali dengan pengiriman material ke laboratorium oleh penyedia jasa. Setelah pengujian dilakukan, penyedia jasa melakukan penandatanganan kontrak dan pembayaran. Setelah itu, baru dilakukan pengujian Job Mix Formula (JMF).
Setelah pengujian, apabila dalam pelaksanaan pekerjaan ditemukan adanya kebutuhan tambahan material atau material yang tidak memenuhi persyaratan, pihak laboratorium akan menyampaikan konfirmasi secara resmi dalam bentuk surat atau informasi. Hal ini bertujuan untuk memastikan kualitas material yang digunakan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












