Dalam FGD tersebut, Paul mengatakan para pakar tidak hanya berbicara mengenai konsep kebhinnekaan, tetapi juga mengangkat berbagai praktik kehidupan masyarakat NTT yang menunjukkan adanya toleransi dan persaudaraan.
Sejumlah contoh yang muncul dalam diskusi antara lain praktik kearifan budaya, kehidupan masyarakat lintas agama, serta berbagai bentuk toleransi yang telah berlangsung di sejumlah daerah di NTT.
Paul menyebut berbagai praktik tersebut menunjukkan bahwa nilai kebhinnekaan sebenarnya telah hidup dalam masyarakat.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan semata-mata menciptakan sesuatu yang baru, melainkan merawat dan memperkuat nilai-nilai yang telah tumbuh dalam kehidupan masyarakat.
“Ini semua sebenarnya sudah perjalanan kita. Tinggal bagaimana kita merawat dan juga memperkuat apa yang sudah menjadi institusi kita,” ujarnya.
Ruang publik digital perlu mendapat perhatian
Salah satu catatan penting yang muncul dalam diskusi adalah bagaimana ruang publik, khususnya ruang digital, dapat menjadi tempat yang sehat bagi generasi muda untuk memahami kebangsaan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
