Sensor-sensor yang dipasang, seperti sensor kelembaban tanah dan suhu, terhubung ke sistem monitoring berbasis internet, memungkinkan pengaturan irigasi secara otomatis berdasarkan data real-time. Sistem ini memastikan tanaman mendapatkan jumlah air yang sesuai dengan kebutuhannya tanpa pemborosan.
Program yang dipimpin oleh Kalvein Rantelobo, dosen dan peneliti dari Undana, tidak hanya berfokus pada instalasi perangkat tetapi juga pemberdayaan petani melalui pelatihan intensif.
Pada 30 November 2024, proses pemasangan perangkat dilakukan bersama lima anggota Kelompok Tani Imanuel. Para petani dilatih untuk memahami cara kerja teknologi ini, mulai dari pengoperasian perangkat hingga pemecahan masalah.
“Melalui pelatihan ini, kami memastikan para petani mampu mengelola teknologi secara mandiri. Tujuan utama kami bukan hanya peningkatan hasil panen, tetapi juga meningkatkan kapasitas para petani untuk memanfaatkan teknologi dalam jangka panjang,” jelas Kalvein Rantelobo.
Hasil awal dari penerapan teknologi ini menunjukkan potensi peningkatan produktivitas yang signifikan. Dengan sistem irigasi otomatis, petani dapat memanen dua kali dalam setahun, sesuatu yang sebelumnya sulit dicapai. Tidak hanya itu, pengelolaan air yang lebih efisien berkontribusi pada penurunan biaya operasional.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
