“Jadilah imam yang dekat dengan umat, mau mendengar, dan selalu hadir. Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang setia menyertai,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Gubernur juga menekankan pentingnya sinergi antara Gereja dan Pemerintah. Meski memiliki peran berbeda, keduanya dipanggil untuk saling melengkapi demi kesejahteraan masyarakat, khususnya mereka yang kecil dan terpinggirkan.
Sementara itu, Mgr. Hironimus Pakaenoni menegaskan bahwa imamat bukan soal kehormatan pribadi, melainkan panggilan untuk melayani dunia.
“Dunia membutuhkan imam yang berani hadir, mendengarkan kegembiraan dan harapan, juga duka dan kecemasan umat. Imam harus menjadi jembatan kasih, bukan tembok pemisah,” tegasnya.
Perasaan syukur juga diungkapkan oleh salah satu imam baru, RD Andy Riang Hepat. Ia menyadari bahwa imamat adalah penyerahan diri total kepada Allah dan umat-Nya.
“Seorang imam bukan milik dirinya sendiri. Ia milik Allah dan umat. Imamat bukan kedudukan, tetapi penyerahan diri sepenuhnya. Doakan kami agar setia hingga akhir,” ungkapnya haru.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












