Mengutip ajaran Lumen Gentium 21, ia menjelaskan bahwa uskup mengambil bagian dalam kesinambungan para rasul sebagai tanda kehadiran Kristus di tengah umat.
“Saya tidak datang sebagai pemilik Gereja, melainkan sebagai pelayan persekutuan,” ujarnya.
Tahbisan itu memiliki makna personal bagi Mgr. Hans.
Katedral Reinha Rosari adalah tempat ia dibaptis, menerima komuni pertama, krisma, hingga ditahbiskan menjadi imam.
“Sebagai anak Nagi, anak Kota Reinha, gereja ini menyimpan sejarah rohani perjalanan panggilan saya,” ungkapnya.
Bertindak sebagai Uskup Penahbis adalah Mgr. Fransiskus Kopong Kung, didampingi Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden dan Uskup Maumere Mgr. Ewaldus Martinus Sedu.
Turut hadir perwakilan Kedutaan Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr. Michael A. Pawolichz, Kardinal Ignatius Suharyo, anggota DPR RI Melchias Mekeng, Ketua DPRD NTT Emi Nomleni, para bupati dan wakil bupati se-Flores, serta jajaran Kementerian Agama.
Di tengah suasana syukur dan perayaan, pesan yang mengemuka tetap sama: Gereja dipanggil untuk tetap satu—satu tubuh, satu roh, satu harapan—seraya waspada terhadap setiap benih perpecahan dari dalam.(*/Red)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












