Kasus ini memperlihatkan potensi persoalan laten dalam pengelolaan wisata alam berbasis masyarakat yang minim pengawasan teknis dan standar keselamatan.
Pengamat pariwisata menilai tragedi ini seharusnya menjadi momentum evaluasi total terhadap seluruh destinasi wisata alam di NTT, khususnya yang melibatkan aktivitas trekking, jembatan gantung, dan wisata ekstrem.
“Jangan sampai destinasi dijual besar-besaran, tetapi aspek keselamatan diabaikan. Ini menyangkut nyawa manusia dan reputasi pariwisata Indonesia di mata dunia,” ujar seorang pengamat pariwisata di Labuan Bajo.
Sementara itu, jenazah kedua korban masih berada di RSUD Komodo, Labuan Bajo. Kepolisian terus berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Austria di Jakarta untuk proses pemulangan ke negara asal.
Di tengah duka mendalam keluarga korban, publik kini menunggu sejauh mana aparat penegak hukum mampu mengungkap pihak yang harus bertanggung jawab atas tragedi yang semestinya bisa dicegah tersebut.(“/Red)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
