Interaksi langsung antara orang tua dan anak, menurutnya, semakin berkurang, tergantikan oleh penggunaan gawai yang berlebihan. Kondisi ini berdampak pada melemahnya fungsi keluarga dalam membentuk karakter, pola asuh, dan perhatian terhadap tumbuh kembang anak.
“Ketika komunikasi dalam keluarga melemah, maka pengawasan, pendidikan karakter, hingga pemenuhan gizi anak juga ikut terdampak. Di sinilah awal dari berbagai persoalan, termasuk stunting,” jelasnya.
Ia menekankan, persoalan stunting dan kemiskinan bukan semata-mata masalah teknis, melainkan berakar dari kondisi keluarga yang belum berfungsi optimal.
Lebih lanjut, Gubernur menegaskan bahwa upaya percepatan penurunan stunting harus dimulai dari keluarga, terutama dalam hal pola asuh, pemenuhan gizi, dan perencanaan keluarga.
Ia juga menyoroti meningkatnya angka kelahiran di NTT yang dipengaruhi oleh menurunnya penggunaan alat kontrasepsi.
Menurutnya, peningkatan angka kelahiran seharusnya menjadi potensi positif, namun tanpa pengelolaan yang baik justru dapat memicu masalah baru.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












