Dari data perencanaan awal, diketahui bahwa kekuatan struktur belum memenuhi standar kelayakan sebagai gedung pemerintah.
“Karena itu diperlukan langkah perkuatan agar bangunan benar-benar aman dan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI),” jelasnya.
Ia mengatakan dalam proses pengerjaan, tim terlebih dahulu membongkar sistem perkuatan lama, kemudian menggantinya dengan sistem baru yang mengacu pada regulasi teknis dan asas keselamatan konstruksi yang berlaku.
Amatus menjelaskan, dari berbagai metode perkuatan yang tersedia—seperti penggunaan Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP) maupun injeksi beton (grouting)—steeljacketing dipilih karena dinilai paling cepat dan ekonomis tanpa mengurangi aspek mutu dan keselamatan.
“Metode lain membutuhkan biaya lebih besar dan waktu pengerjaan yang lebih lama. Karena itu, steeljacketing menjadi opsi paling rasional dan efisien,” katanya.
Ia menegaskan, metode ini sejak awal telah ditetapkan dalam kontrak pekerjaan dan bukan merupakan perubahan kontrak (contract change order/CCO).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












