
Fransiskus berharap Gerakan Ekoteologi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial atau aksi bersih lingkungan yang hanya dilakukan pada momentum tertentu. Sebaliknya, gerakan tersebut diharapkan berkembang menjadi budaya yang melekat dalam perilaku masyarakat maupun aparatur Kementerian Agama.
“Kita ingin gerakan ini menjadi budaya. Bukan hanya hari ini kita membersihkan pantai, tetapi setelah kegiatan ini kita tetap memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan di mana pun kita berada. Ekoteologi harus menjadi gerakan bersama yang dimulai dari tindakan-tindakan sederhana dan dilakukan secara konsisten,” tegasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan lintas satuan kerja dan lembaga keagamaan dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan ruang bersama yang dapat mempertemukan berbagai pihak.
Semangat merawat bumi, lanjutnya, juga dapat menjadi bagian dari penguatan kerukunan dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Gerakan Ekoteologi Bersih Pantai di Pasir Panjang pun menjadi pengingat bahwa menjaga alam tidak selalu membutuhkan tindakan besar. Memungut sampah, menjaga kebersihan, dan mengajak orang lain untuk peduli merupakan langkah sederhana yang jika dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan dapat membentuk budaya baru dalam memperlakukan lingkungan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














