Karena itu, apabila ajaran agama dipelajari dan diamalkan dengan baik, maka hal tersebut dapat membantu menekan potensi gesekan akibat perbedaan agama.
Ia menilai agama pada dasarnya memiliki hubungan vertikal dengan yang transendental sekaligus hubungan horizontal dengan sesama manusia.
Dalam konteks NTT, menurutnya, keragaman ras, etnis, budaya dan bahasa bukan menjadi penyebab utama gesekan. Perbedaan agama justru perlu mendapat perhatian lebih dalam membangun kehidupan yang harmonis.
Kesadaran hidup bersama telah tumbuh sejak dahulu
Yohanes menegaskan bahwa kesadaran untuk hidup bersama dalam keberagaman bukan sesuatu yang baru muncul setelah Indonesia merdeka.
Menurutnya, semangat persatuan dan kehidupan bersama dalam keberagaman telah tumbuh dalam masyarakat NTT sejak jauh sebelum kemerdekaan.
Masyarakat dengan berbagai latar belakang telah terbiasa bersatu dalam berbagai urusan keagamaan, adat, budaya dan kehidupan sosial.
Karena itu, realitas kehidupan bersama dalam semangat persatuan tidak dapat dilepaskan dari sejarah masa lalu masyarakat NTT.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
