Dengan demikian, menurutnya, perbedaan agama dan budaya bukan alasan untuk terjadinya perpecahan, melainkan dapat menjadi potensi untuk memperkuat persatuan dan kesatuan.
Kearifan lokal menjadi kekuatan persaudaraan
Dalam konteks kehidupan masyarakat NTT, Yohanes menekankan bahwa kerukunan tidak hanya lahir dari aturan formal dan jaminan konstitusi.
Kerukunan juga tumbuh dari akar rumput melalui nilai-nilai sosio-kultural dan kearifan lokal yang telah mengikat masyarakat dalam hubungan persaudaraan melampaui batas agama dan suku.
Masyarakat NTT yang terdiri atas berbagai kelompok suku dan agama dinilai mampu merajut perdamaian melalui penguatan nilai budaya lokal.
Hubungan kekeluargaan dan adat menjadi salah satu kekuatan yang menjaga kehidupan bersama.
Dalam urusan perkawinan, kematian maupun kegiatan sosial lainnya, masyarakat dapat bergotong royong dan saling membantu tanpa menjadikan perbedaan agama sebagai sekat.
Moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari
Yohanes juga menyoroti praktik kehidupan beragama masyarakat NTT yang menunjukkan adanya semangat moderasi beragama secara alamiah.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
