Selama ini, kapal-kapal dari NTT harus melakukan perawatan hingga ke Jawa atau Nusa Tenggara Barat. Kondisi ini, menurutnya, menjadi peluang besar yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Sebagai anak daerah, Paskal memahami betul realitas tersebut. Aktivitas pelayaran di NTT sangat tinggi, namun belum didukung oleh infrastruktur maritim yang memadai.
“Kalau fasilitas ada di NTT, proses maintenance bisa lebih cepat, efisien, dan tentu mendukung keselamatan pelayaran,” jelasnya.
Paskal tidak sekadar bermimpi. Ia menyusun langkah secara terukur.
Ia menargetkan dalam waktu 15 hingga 25 tahun ke depan, galangan kapal yang diimpikannya dapat terwujud.
Namun sebelum itu, ia memilih untuk memperkuat diri melalui pengalaman kerja.
“Saya harus berkarier dulu, belajar dari hulu ke hilir, supaya saat membangun perusahaan, saya benar-benar paham sistemnya,” katanya.
Baginya, dunia kerja adalah ruang pembelajaran sesungguhnya. Apa yang dipelajari di bangku kuliah hanyalah dasar, sementara realitas di lapangan jauh lebih kompleks.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












