Proses penangkapan berlangsung menegangkan. Terjadi tarik-menarik antara buaya dengan salah satu personil BBKSDA. Dengan bantuan warga sekitar, buaya yang sempat berguling ke arah semak di tepi kali akhirnya dapat diamankan sepenuhnya setelah petugas lain mengamankan rahang buaya menggunakan pipa dan tali noose (jerat).
Setelah ditangkap kemudian diamankan pada kandang penampungan sementara di BBKSDA NTT.
Kepala BBKSDA NTT, Ir. Arief Mahmud, M.Si. mengatakan berdasarkan
Data BBKSDA NTT dalam 6 tahun terakhir sejak tahun 2019 hingga awal tahun 2025 tercatat korban konflik buaya di Provinsi Nusa Tenggara Timur yakni 59 korban konflik, 31 orang meninggal dan 28 orang luka hingga cacat.
“Korban terbanyak berada di 5 Kabupaten yakni: Kabupaten Kupang disusul Malaka, Sumba Barat dan Sumba Timur serta Lembata” ungkap Arief
Pada awal tahun 2025, Balai Besar KSDA NTT telah menerima setidaknya 5 laporan munculnya buaya yang berpotensi mengakibatkan konflik dan korban di kedua belah pihak.
Dihimbau kepada seluruh masyarakat bahwa pada musim hujan di mana air sungai meluap telah membuka kesempatan buaya memasuki sungai ke arah daratan/ hulu, hal tersebut perlu diwaspadai terutama bagi masyarakat yang lebih banyak beraktifitas di perairan sungai maupun perairan dekat muara.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
