Flores bukan wilayah yang mudah. Jalan berkelok, kontur tanah yang tidak seragam, hingga cuaca yang berubah cepat menjadi bagian dari risiko pekerjaan.
Dalam situasi seperti itu, profesionalisme bukan sekadar tuntutan administratif. Ia menjadi sikap yang harus dijaga setiap saat.
“Tetap profesional menghadapi hambatan,” kata Diana singkat.
Namun, tantangan yang lebih halus justru datang dari hal yang tidak terlihat: menjaga integritas di tengah tekanan proyek.
“Sebagai PPK perempuan, kita harus membuktikan bahwa profesionalisme tidak mengenal gender,” ujarnya.
Kartini yang Berubah Wujud
Apa yang diperjuangkan Raden Ajeng Kartini lebih dari seabad lalu menemukan bentuknya yang baru dalam cerita seperti ini.
Bukan lagi soal akses pendidikan semata, tetapi tentang ruang untuk mengambil keputusan dan memimpin.
Diana tidak menyebut dirinya sebagai simbol. Ia hanya bekerja, menyelesaikan tugas, dan menjaga tanggung jawab.
Namun, dari sana, sebuah gambaran terbentuk: perempuan yang tidak lagi meminta ruang, tetapi mengisinya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
