Lulus pada tahun 1994 dari jurusan Gambar Bangunan, ia tidak langsung berada di posisi nyaman.
Setahun kemudian, ia bekerja sebagai tenaga honorer di Dinas Pekerjaan Umum—posisi yang kerap menuntut lebih banyak kerja dibandingkan pengakuan.
Namun Diana memilih bertahan. Sambil bekerja, ia melanjutkan pendidikan di Akademi Teknik Kupang hingga lulus pada tahun 2000.
Dua tahun berselang, ia resmi diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
Kesempatan untuk memperdalam kompetensi datang ketika ia memperoleh beasiswa dari Kementerian PUPR dan melanjutkan studi di Politeknik Negeri Kupang, mengambil spesialisasi Teknik Perancangan dan Pemeliharaan Jalan dan Jembatan.
Pilihan untuk tetap berada di jalur ini ia jalani bukan tanpa kesadaran.
“Banyak tantangan fisik. Tapi saya ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa bersaing,” ujarnya.
Menguji Diri di Ruang yang Tidak Ramah
Dunia konstruksi jalan bukanlah ruang yang sejak awal ramah bagi perempuan. Lapangan menuntut ketegasan, daya tahan, dan presisi teknis—hal-hal yang kerap distereotipkan sebagai domain laki-laki.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
