“Saya melihat banyak yang sudah pecah dan rusak, sehingga air banyak yang terbuang. Air yang sampai ke persawahan mungkin tidak sampai 50 persen,” ungkapnya.
Selain kerusakan saluran, persoalan sedimentasi juga berpotensi kembali terjadi ketika hujan deras. Material batu dan tanah dari kawasan pegunungan dapat terbawa masuk ke jaringan irigasi dan menghambat aliran air.
Karena itu, Usman menilai diperlukan penanganan yang lebih menyeluruh melalui perbaikan jaringan sekaligus pengelolaan dan pemeliharaan secara berkelanjutan.
Usman Siap Dorong Pengelolaan Kembali ke BBWS NT II
Berdasarkan kondisi tersebut, Usman mengatakan dirinya siap mendorong agar pengelolaan jaringan irigasi Linamnutu kembali ditangani oleh BBWS NT II.
Menurutnya, pengelolaan oleh balai teknis akan membuat kondisi jaringan lebih mudah dipantau dan persoalan yang muncul di lapangan dapat ditangani lebih cepat.
“Saya mau dorong supaya TPOP-nya kembali ke Balai. Jangan hanya balai yang menerima administrasi, tetapi balai harus mengetahui persis keadaan di lapangan sehingga bisa langsung ditangani,” tegasnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.














