“Khusus untuk penanganan longsoran di Henes-Motamasin, yang konstruksinya menggunakan bronjong, kami akan menambahkan pekerjaan saluran untuk mengarahkan aliran air. Dengan adanya saluran air yang tepat, diharapkan masalah longsoran dapat teratasi, mengingat kondisi lapangan yang sangat curam,” jelas Fahrudin.
“Selain itu, saluran eksisting yang awalnya menggunakan pasangan batu, kami usulkan untuk diganti dengan metode lain, seperti pricase, metode cor di tempat, atau insitu. Kami juga akan melakukan perkuatan dinding penahan tebing (DPT). Itulah beberapa tambahan pekerjaan yang kami usulkan,” tambahnya.
Fahrudin menekankan pentingnya memastikan bahwa desain penanganan longsoran benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan dan konstruksinya mampu bertahan lama.
“Prioritas utama kami adalah memastikan bahwa penanganan longsoran, baik dengan konstruksi bronjong maupun fondasi langsung, dapat berfungsi secara efektif dan tahan lama. Kami tidak ingin konstruksi yang sudah dibangun rusak akibat hujan,” ujarnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
