Menurut Ari, pengerjaan konstruksi irigasi tidak memungkinkan dilakukan dengan sistem buka-tutup aliran air secara terus-menerus. Sebab, proses pengecoran membutuhkan kondisi yang stabil agar kualitas konstruksi tidak terganggu.
“Kalau baru dilakukan pengecoran lalu air dibuka kembali, tentu bisa merusak bagian semen maupun struktur pekerjaan yang baru dikerjakan,” ujarnya.
Karena itu, pihak pelaksana saat ini fokus memperbaiki titik-titik jaringan yang mengalami kerusakan terlebih dahulu, sambil menunggu masa panen tiba.
Setelah mendekati panen dan kebutuhan air sawah mulai berkurang, barulah dilakukan penutupan aliran untuk pekerjaan rehabilitasi saluran primer dan sekunder secara menyeluruh.
Untuk paket pekerjaan di D.I Mena, kondisi serupa juga terjadi. Sejumlah area masih ditanami sehingga pekerjaan konstruksi dilakukan secara bertahap menyesuaikan kondisi di lapangan.
Meski progres saat ini masih tergolong lambat, Ari menegaskan bahwa percepatan pekerjaan akan dilakukan mulai Juni hingga September 2026. Pada periode tersebut, lahan pekerjaan diperkirakan sudah tersedia dan kondisi cuaca lebih mendukung.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












