tv-beritakota.com, KUPANG- Penanganan longsoran di sejumlah ruas jalan nasional di wilayah timur NTT tidak bisa dilakukan dengan satu metode yang sama untuk semua titik.
Setiap lokasi longsoran harus ditangani berdasarkan kondisi lapangan dan karakter tanah yang berbeda-beda.
Demikian dikemukakan Kepala Satuan Kerja P2JN NTT, Andria Muharami Fitra, ST, M.Eng.Sc dalam wawancara, belum lama ini di Kupang.
Menurutnya, kondisi geologi di wilayah timur NTT, khususnya kawasan Sabuk Merah memiliki karakter tanah “clay shale” atau lempung bermasalah yang sangat rentan bergerak saat terkena air.
“Tidak ada penanganan longsoran yang one size fit all. Semua harus dilihat case by case sesuai kondisi di lapangan,” ujar Andrea
Ia menjelaskan, tanah jenis clay shale memiliki karakter unik. Saat musim kering, tanah tampak keras seperti batu. Namun ketika terkena udara dan air akibat hujan ekstrem, struktur tanah berubah menjadi lunak dan mudah bergerak sehingga memicu longsoran.
“Kalau kita bor saat kondisi kering, tanahnya keras sekali seperti batu. Tapi begitu teroksidasi dan kena air, berubah seperti bubur dan sangat labil,” jelasnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
