Karena itu, metode penanganan longsoran harus disesuaikan dengan tingkat kerusakan di masing-masing titik.
Untuk longsoran ringan, penanganan masih bisa menggunakan dinding penahan tanah (DPT), baik pasangan batu, beton maupun bronjong.
Namun pada lokasi dengan gerusan lebih dalam dan pergerakan tanah yang terus berkembang, penanganan membutuhkan struktur yang lebih kuat seperti bore pile atau tiang bor dengan kedalaman tertentu.
“Kalau longsorannya sudah dalam, dinding penahan saja tidak cukup lagi. Harus ada bore pile supaya struktur jalan tetap aman,” katanya.
Selain itu, BPJN NTT juga menyiapkan alternatif penggunaan geotekstil, yakni material khusus menyerupai kain yang digunakan untuk membungkus lapisan tanah sebelum dilakukan penimbunan kembali agar tanah lebih stabil dan tidak mudah bergeser.
Meski metode penanganan berbeda di setiap lokasi, Andrea menegaskan pengendalian air tetap menjadi kunci utama mencegah longsoran berulang di ruas jalan nasional NTT.
“Air adalah faktor utama pemicu longsor. Kalau infiltrasi air ke bawah badan jalan tidak dikendalikan, maka longsoran akan terus terjadi, apalagi dengan curah hujan ekstrem dan cuaca yang sekarang makin tidak menentu,” pungkasnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
