“Deviasi tinggi ini karena progres di lapangan lebih cepat dari jadwal awal. Namun, revisi jadwal masih akan dilakukan menyesuaikan addendum kontrak,” jelas Roberto.
Di sisi lain, tiga paket penanganan longsoran masih terus dikebut di lapangan. Paket longsoran Sadi–Haikesak dengan nilai kontrak Rp. 25 miliar baru mencapai progres fisik 7,7 persen.
Kondisi serupa terjadi pada paket penanganan longsoran ruas Haikesak–Motaiain–Henes senilai Rp14 miliar, dengan progres 7 persen dari target 10 persen.
Sementara itu, paket longsoran ruas Henes–Motamasin senilai Rp9,8 miliar menunjukkan kinerja relatif stabil, dengan progres 10,34 persen atau sedikit di atas target 10,18 persen.
Menurut Roberto, keterlambatan pada paket longsoran dipicu oleh perubahan kondisi lapangan yang signifikan, sehingga memerlukan review desain. Selain itu, faktor cuaca ekstrem di awal tahun dan tingginya debit sungai turut menghambat pelaksanaan pekerjaan, terutama pada titik penanganan di daerah aliran sungai (DAS).
“Beberapa pekerjaan seperti proteksi tebing dan pemasangan bronjong belum bisa dilakukan karena debit air masih tinggi. Namun, tim di lapangan tetap melakukan persiapan seperti stockpile material sambil menunggu kondisi memungkinkan,” ujarnya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












