IKLAN

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Penanganan Longsoran di NTT Harus Case by Case. P2JN NTT Rampungkan Review Desain 4 Titik Longsoran

Avatar photo
IMG 20260511 103125

tv-beritakota.com, KUPANG- Penanganan longsoran di sejumlah ruas jalan nasional di wilayah timur NTT tidak bisa dilakukan dengan satu metode yang sama untuk semua titik.

Setiap lokasi longsoran harus ditangani berdasarkan kondisi lapangan dan karakter tanah yang berbeda-beda.

Advertisement
Ingin Punya Website?  Klik Disini!!!

Demikian dikemukakan Kepala Satuan Kerja P2JN NTT, Andria Muharami Fitra, ST, M.Eng.Sc dalam wawancara, belum lama ini di Kupang.

Menurutnya, kondisi geologi di wilayah timur NTT, khususnya kawasan Sabuk Merah memiliki karakter tanah “clay shale” atau lempung bermasalah yang sangat rentan bergerak saat terkena air.

“Tidak ada penanganan longsoran yang one size fit all. Semua harus dilihat case by case sesuai kondisi di lapangan,” ujar Andrea

Ia menjelaskan, tanah jenis clay shale memiliki karakter unik. Saat musim kering, tanah tampak keras seperti batu. Namun ketika terkena udara dan air akibat hujan ekstrem, struktur tanah berubah menjadi lunak dan mudah bergerak sehingga memicu longsoran.

“Kalau kita bor saat kondisi kering, tanahnya keras sekali seperti batu. Tapi begitu teroksidasi dan kena air, berubah seperti bubur dan sangat labil,” jelasnya.

Baca Juga :  Penanganan Longsor Bertahap di Sabuk Merah Sektor Timur Jamin Konektivitas Jalan Tetap Lancar