“Makna kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi bagaimana kita mampu mengorbankan ego, kesombongan, dan kepentingan pribadi demi membantu sesama. Kurban adalah tentang solidaritas, kepedulian, dan keikhlasan berbagi dengan masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan kerukunan sebagai fondasi utama pembangunan di NTT, terutama sebagai daerah kepulauan yang memiliki tantangan geografis cukup besar.
“Kerukunan, kedamaian, dan keamanan adalah modal utama pembangunan. Kalau masyarakat hidup rukun, maka pembangunan akan berjalan baik. Tetapi jika kerukunan terganggu, maka pembangunan juga akan terhambat,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, Johni Asadoma kembali mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mempertahankan citra NTT sebagai daerah yang dikenal luas karena kehidupan toleransi antarumat beragamanya.
“NTT dikenal sebagai laboratorium kerukunan di Indonesia. Umat Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu hidup berdampingan dengan damai, saling menghormati dan saling membantu. Nilai-nilai ini harus terus kita jaga bersama,” katanya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
