Menteri Wihaji mengingatkan, fenomena fatherless atau minimnya keterlibatan ayah dalam tumbuh kembang anak menjadi salah satu tantangan serius yang dihadapi Indonesia saat ini. Menurutnya, kondisi tersebut tidak selalu berarti seorang ayah tidak berada di rumah, tetapi juga ketika ayah hadir secara fisik namun tidak membangun hubungan emosional dengan anak.
“Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dalam fenomena fatherless country, di mana ayah hadir secara fisik, namun absen secara psikologis,” tegasnya.
Ia menilai, ketika figur ayah mulai menjauh dari kehidupan anak, ruang tersebut akan dengan mudah diisi oleh pengaruh lain, terutama penggunaan gawai dan media digital yang tidak selalu membawa dampak positif.
Karena itu, para ayah diminta lebih banyak meluangkan waktu bersama keluarga, mengajak anak berdialog, mendengarkan cerita mereka, serta menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan biarkan masa depan dan pola pikir anak-anak kita dikuasai oleh algoritma digital yang tidak bermoral. Jangan biarkan meja makan sunyi karena semua sibuk menatap layar. Wahai para ayah, letakkan gawai Anda, peluk anak-anakmu, ajak mereka berdialog, dan batasi waktu layar pada hal-hal yang produktif,” pesannya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
