IKLAN

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Antisipasi Kekeringan, BBWS NT II Optimalkan Bendungan, Embung dan Sumur Bor Demi Ketahanan Pangan dan ketersediaan air baku bagi masyarakat

Avatar photo
file 00000000cb8071fabbb35517ce5ceb6b

tv-beritakota.com, KUPANG – Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II (BBWS NT II) mulai memperkuat langkah mitigasi menghadapi ancaman musim kemarau dan potensi kekeringan yang diprediksi lebih panjang pada 2026.

Fokus utama diarahkan pada perlindungan ketahanan pangan, pengamanan pasokan air irigasi, hingga penyediaan air baku bagi masyarakat di wilayah rawan kering di Nusa Tenggara Timur.

Advertisement
Ingin Punya Website?  Klik Disini!!!

Kepala BBWS NT II, Parlinggoman Simanungkalit,S.T.,M.PSDA mengatakan pihaknya telah menginstruksikan seluruh bendungan dan embung di wilayah kerja BBWS NT II untuk menahan air pada posisi tampungan maksimum hingga akhir Mei 2026 sebagai langkah antisipasi menghadapi puncak musim kemarau.

IMG 20260506 122451
Foto- Kepala BBWS NT II, Parlinggoman Simanungkalit,S.T.,M.PSDA

Menurutnya, strategi tersebut dilakukan agar cadangan air tetap tersedia saat kebutuhan irigasi pertanian meningkat pada musim kering nanti.

“Yang paling berdampak dalam situasi kekeringan tentu ketahanan pangan kita. Irigasi menjadi sektor yang paling terdampak, sehingga seluruh bendungan dan embung kita minta berada pada kapasitas maksimum sampai akhir Mei,” ujar Parlinggoman dalam wawancara, Selasa (5/5/2026).

Ia menjelaskan, setelah memasuki akhir Mei, air dari bendungan akan mulai dirilis secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan irigasi lahan pertanian masyarakat.

Namun demikian, BBWS NT II menyoroti masih belum optimalnya distribusi air irigasi di lapangan, khususnya pada daerah layanan Bendungan Raknamo.

Menurut Parlinggoman, volume air yang dilepas dari bendungan sebenarnya masih mencukupi, tetapi pengelolaan distribusi di tingkat lapangan belum berjalan sesuai kesepakatan yang telah ditetapkan bersama petani.

Akibatnya, terjadi ketimpangan distribusi air, di mana sebagian wilayah mengalami kelebihan pasokan, sementara wilayah lain justru kekurangan air.

“Air sebenarnya cukup, tetapi pengelolaan di lapangan belum pas. Ada yang kelebihan, ada yang kekurangan karena tidak mengikuti pola pembagian yang sudah disepakati,” katanya.

Baca Juga :  BPPW NTT Bentuk Tim Survey Untuk Identifikasi Kondisi Infrastruktur Bangunan Gedung

Karena itu, BBWS NT II terus berkoordinasi dengan sektor pertanian dan para pengelola irigasi untuk memastikan distribusi air dapat dimanfaatkan secara efektif dan merata, sehingga tidak memicu konflik perebutan air antar petani saat musim kemarau berlangsung.

Selain fokus pada sektor pertanian, BBWS NT II juga menyiapkan langkah mitigasi untuk mengatasi ancaman kekeringan terhadap kebutuhan air minum masyarakat, terutama di daerah-daerah yang selama ini masuk kategori rawan kekeringan.

Pihaknya telah mengusulkan program penanganan dampak musim kering melalui pembangunan sumur bor di sejumlah wilayah yang membutuhkan sumber air baku tambahan.

“Untuk daerah yang sangat kering, terutama kebutuhan air minum, kami sudah mengusulkan penanganan dampak musim kering. Mudah-mudahan bisa mendapat alokasi sumur bor yang signifikan,” jelasnya.

BBWS NT II memperkirakan sedikitnya 20 hingga 30 sumur bor akan disiapkan sebagai langkah antisipasi apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dibanding tahun sebelumnya.

Di sisi lain, kesiapan operasional dan pemeliharaan infrastruktur irigasi juga terus dipersiapkan sembari menunggu usulan penanganan jaringan irigasi dari Kementerian Pertanian.

Parlinggoman menegaskan, secara umum BBWS NT II telah melakukan berbagai langkah mitigasi sejak dini, termasuk menyiapkan peralatan pendukung, mengoptimalkan operasi tampungan air, hingga memperkuat koordinasi lintas sektor menghadapi potensi dampak fenomena iklim seperti El Nino maupun La Nina.

“Langkah-langkah mitigasi sudah kita lakukan. Persiapan peralatan juga sudah. Seluruh kapasitas tampungan kita maksimalkan agar dampaknya nanti tidak terlalu besar,” ujarnya.

BBWS NT II juga menjalin koordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk lembaga dari Australia yang bergerak dalam penanganan kekeringan, terutama untuk memperkuat edukasi dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi musim kemarau panjang.

Menurut Parlinggoman, pembangunan infrastruktur air harus diiringi dengan peningkatan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam mengelola risiko kekeringan secara mandiri.

Baca Juga :  14 Titik JIAT di Rote dan Sumba Direhabilitasi untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan

“Mereka membantu mengedukasi masyarakat soal daya tahan menghadapi musim kemarau, sementara kita fokus membangun infrastrukturnya,” katanya.(Paskal)