Proses pengerjaan rehabilitasi ini dilakukan dengan melibatkan tenaga manusia secara langsung, terutama dalam pengangkutan material seperti semen dan pasir. Hal ini dikarenakan lokasi pekerjaan yang seringkali berada di daerah yang sulit dijangkau oleh alat berat.
Secara teknis, pekerjaan rehabilitasi jaringan tersier mencakup perbaikan saluran yang rusak atau bocor, dengan panjang penanganan yang disesuaikan dengan tingkat kerusakan yang ada di setiap saluran. Konstruksi perbaikan menggunakan pasangan batu dengan memanfaatkan material lokal.
“Panjang penanganan di masing-masing daerah disesuaikan dengan kondisi kerusakan yang ada,” kata Yunus.
Dengan sistem saluran tersier yang lebih baik, diharapkan dapat mendukung peningkatan produktivitas pertanian serta menjaga kontinuitas suplai air bagi lahan pertanian.
“Melalui Inpres yang bergulir di tahun pertama, kami menargetkan agar air yang dialirkan dapat mencukupi untuk peningkatan luas tanam. Selain itu, kami berharap melalui Inpres ini tidak ada lagi kehilangan air yang signifikan di saluran, sehingga petani dapat melakukan tiga kali masa tanam dalam setahun, bukan hanya dua kali seperti sebelumnya,” jelas Yunus.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












