Namun, upaya perbaikan sementara menggunakan kayu dan bahan pengikat belum mampu menghentikan kebocoran secara permanen.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena sekitar 40 hektare sawah berpotensi terdampak, terlebih tanaman padi telah mulai menguning dan petani berharap dapat segera memasuki masa panen.
“Yang kita khawatirkan adalah sekitar 40 hektare sawah berpotensi terdampak. Tanaman padi sudah mulai menguning dan petani berharap bisa segera panen,” jelas Siswandi.
Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, BBWS NT II menyiapkan langkah darurat dengan menggunakan pompa air untuk mengalirkan air dari bendungan menuju saluran irigasi.
Hasil uji coba di lapangan menunjukkan air berhasil dialirkan kembali ke saluran hingga membasahi lahan persawahan yang sebelumnya mengalami kekeringan.
Langkah darurat ini memberikan harapan bagi petani karena pasokan air dapat kembali menjangkau area persawahan sembari menunggu penanganan lanjutan terhadap komponen yang mengalami kebocoran.
Selain itu, pihaknya berencana menyiapkan pipa berukuran sekitar 10,5 inci untuk mendukung penggantian komponen yang rusak.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
