Selain masalah geologi, BPJN NTT juga menghadapi tantangan lain selama masa konstruksi di perbatasan sektor timur, yaitu kondisi topografi yang berupa daerah perbukitan yang curam, serta curah hujan yang tinggi sepanjang tahun.
“Salah satu tantangan yang kami hadapi dalam pembangunan jalan di NTT, khususnya di sektor timur, adalah kondisi geologi yang rentan terhadap longsor, yaitu tanah Bobonaro clay (rawan longsor). BPJN akan terus berupaya memperbaiki longsoran hingga mencapai kondisi stabil, dengan prioritas utama memastikan kelancaran lalu lintas,” ungkap Junianto dalam acara coffee morning bersama wartawan di Aula Flobamorata, BPJN NTT, Rabu, 18 Juni 2025.
Turut hadir pada kesempatan tersebut, Kepala seksi (Kasie) Preservasi, Rofinus Ngilo, Kasie Pembangunan Jalan dan Jembatan, Ketsia A.S Lanoe, Kasatker P2JN, Andria Fitra, Kasatker PJN Wilayah 1, Ashary, Kasatker PJN Wilayah 2, Fahrudin, dan Kasatker SKPD, Rama Usman,
Terkait penanganan longsoran, Mahmah Dian Mahendra, selaku Kepala Seksi Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur Jalan (KPIJ) BPJN NTT juga menyampaikan bahwa tidak semua dari 170-an titik longsor di NTT dapat ditangani secara bersamaan, mengingat adanya keterbatasan alokasi dana yang diberikan oleh Pemerintah Pusat.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
