Daging kurban yang dihasilkan akan dibagikan kepada berbagai pihak yang berhak menerima, termasuk fakir miskin, dhuafa, anak yatim, serta seluruh ASN Kanwil Kemenag NTT, baik yang beragama Islam maupun non-Muslim.
“Ini adalah hari keberkahan yang bukan hanya diperuntukkan bagi umat Islam saja, tetapi juga untuk semua umat. Oleh karena itu, setiap tahunnya kami berbagi dengan seluruh saudara-saudara non-muslim yang ada di lingkungan Kanwil,” jelas H. Hasan Manuk.
Sementara Ustadz H. Sanu Bajuri, menjelaskan makna Hari Raya Idul Adha, adalah momen menyatakan keihlasan setiap umat Islam untuk mengorbankan hartanya, yang telah diberikan Allah Subhanahuwata’ala, untuk berbagi bagi sesama.
Amaliah korban ini mengikuti teladan Nabi Ibrahim alaihissalam, yang membuktikan cintanya pada Allah Subhanahuwata’ala, dengan ihlas mengorbankan hal yang sangat dicintainya untuk disembelih.
“Nah, amaliah ini terus diabadikan sampai sekarang, sebagai salah satu ibadah yang penuh keberkahan bagi umat Islam sendiri dan bagi umat beragama yang lain juga. Sebagai wujud bahwa Islam adalah agama rahmatallil’aalamiin (Rahmat bagi seluruh alam),” jelas Ustadz Sanu.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
