Tegar Prastya berdiri sejajar dengan para tokoh kemanusiaan lainnya—dari aparat keamanan hingga pekerja publik—yang berjasa menyalakan harapan di tengah masyarakat.
Penghargaan Trophy for Humanity ini bukan hanya apresiasi untuk Tegar Prastya secara pribadi. Lebih dari itu, ia menjadi simbol wajah baru Kejaksaan: penegakan hukum yang lebih manusiawi, lebih mendengar, dan lebih peduli.
Bagi Kejaksaan Negeri Sikka dan Kejaksaan RI, momen ini mempertegas komitmen bahwa hukum bukan hanya tentang menghukum, tetapi juga memulihkan—hubungan sosial, kepercayaan masyarakat, dan masa depan para pihak.
Empati di mata Kejaksaan bukan kelemahan. Ia adalah kekuatan moral yang membuat hukum relevan dan dekat dengan masyarakat.
Lewat figur seperti Tegar, Kejaksaan menunjukkan bahwa penegakan hukum terbaik adalah yang mampu merasakan denyut kehidupan rakyatnya.
Simfoni Perdamaian ditutup dengan pesan yang hangat: di dunia yang semakin bising, empati adalah jembatan yang mendamaikan.
Metro TV, para pegiat kemanusiaan, dan Kejaksaan RI berdiri pada satu nilai yang sama: kekuatan sejati bukan pada suara yang paling keras, tetapi pada hati yang paling tulus mendengar.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
