Dengan penggunaan alat dan teknologi sederhana, pekerjaan yang sebelumnya dianggap berat kini menjadi lebih ringan dan menarik.
“Anak muda itu bukan tidak mau, tapi karena terlalu capek. Kita ubah cara kerjanya,” jelasnya.
Ke depan, mantan calon wakil Gubernur NTT ini mengatakan Kebun Jane tidak hanya ingin menjadi kebun produksi, tetapi berkembang menjadi: pusat inovasi, tempat edukasi dan magang, destinasi agrowisata.
Bahkan, model ini dirancang untuk bisa direplikasi di berbagai wilayah NTT. Namun, ekspansi tersebut membutuhkan dukungan investasi.
“Kalau ada yang suntik modal, kita bisa replikasi dengan cepat,” tegasnya.
Apa yang dilakukan Kebun Jane pada akhirnya bukan sekadar aktivitas bertani.
Ia adalah upaya sistematis untuk mengurangi ketergantungan pangan, membangun kemandirian ekonomi, mengubah pola pikir masyarakat.
Di tengah tantangan pangan nasional, Kebun Jane menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari daerah bahkan dari lahan yang selama ini dianggap terbatas.
Dengan hadirnya Kebun Jane sebuah pesan sederhana menguat bahwa kemandirian tidak datang dari luar, tetapi ditanam dan dibangun dari dalam. (Paskal)
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












