Model ini bukan hanya efisien, tetapi juga menekan biaya produksi dan menjaga keberlanjutan.
Meski membawa teknologi, Kebun Jane tidak memutus peran petani lokal. Sebaliknya, teknologi diperkenalkan secara bertahap agar mudah diadaptasi.
“Kita bukan kebun biasa, tapi kebun inovasi. Harus produksi, harus untung,” tegasnya.
Pendekatan ini menjawab dua hal sekaligus yakni meningkatkan produktivitas dan tetap menjaga keterlibatan masyarakat.
Sejak panen perdana Oktober 2025, Kebun Jane menunjukkan konsistensi produksi tanpa putus.
Beberapa capaian konkret seperti Cabai hingga 500 kg per minggu, Pisang Cavendish mencapai 30–32 kg per tandan (di atas rata-rata nasional), Tomat menjadi komoditas utama dengan permintaan tinggi
Ini menjadi bukti bahwa produksi lokal tidak hanya mungkin, tetapi juga kompetitif.
Lebih jauh, Kebun Jane tidak berhenti pada produksi. Ia membangun skema ekonomi yang menjaga perputaran uang tetap di daerah.
Konsepnya jelas yakni Investasi masuk ke NTT, Produksi dilakukan di NTT, Produk dijual ke luar (termasuk Timor Leste), Uang kembali ke NTT
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












