IKLAN

Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Jalan Panjang Diana Takaeb, Dari Bangku STM Hingga Memimpin Proyek Jalan di Flores

Avatar photo
file 00000000800471fa95313b3d9c7bf171

Lulus pada tahun 1994 dari jurusan Gambar Bangunan, ia tidak langsung berada di posisi nyaman.

Setahun kemudian, ia bekerja sebagai tenaga honorer di Dinas Pekerjaan Umum—posisi yang kerap menuntut lebih banyak kerja dibandingkan pengakuan.

Advertisement
Ingin Punya Website?  Klik Disini!!!

Namun Diana memilih bertahan. Sambil bekerja, ia melanjutkan pendidikan di Akademi Teknik Kupang hingga lulus pada tahun 2000.

Dua tahun berselang, ia resmi diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

Kesempatan untuk memperdalam kompetensi datang ketika ia memperoleh beasiswa dari Kementerian PUPR dan melanjutkan studi di Politeknik Negeri Kupang, mengambil spesialisasi Teknik Perancangan dan Pemeliharaan Jalan dan Jembatan.

Pilihan untuk tetap berada di jalur ini ia jalani bukan tanpa kesadaran.

“Banyak tantangan fisik. Tapi saya ingin membuktikan bahwa perempuan juga bisa bersaing,” ujarnya.

 

Menguji Diri di Ruang yang Tidak Ramah

Dunia konstruksi jalan bukanlah ruang yang sejak awal ramah bagi perempuan. Lapangan menuntut ketegasan, daya tahan, dan presisi teknis—hal-hal yang kerap distereotipkan sebagai domain laki-laki.

Baca Juga :  BBWS NT II Genjot Pembangunan dan Rehabilitasi Sumur Bor di Sumba: Dukung Ketahanan Pangan dan Ketersediaan Air